Ini Bukan Hanya Data, tapi Masalah Cinta

Berikut adalah tausyiah yang disampaikan oleh Nadhila Andanis Zafira pada Jumat,17 Mei 2013:

Kenapa nilai-nilai Islam terlihat susah dan menyusahkan?
 
Karena perilaku penyerunya, kadang-kadang. Ide kemuliaan berdakwah yang mereka dapat, diwujudkan dengan semangat yang melebihi kemampuannya dalam menyampaikan. Sehingga apa-apa yang diserukan, meskipun benar, sering tidak benar dalam kaidah komunikasi. Hasilnya? Luar biasa fatal. Ide yang benar sering terlihat berat dan fanatik. Ide yang haq sering kelihatan sulit dan tidak terjangkau. Dan, ketika ini terjadi, dakwah malah jadi jalan untuk menjauhkan orang dari Islam.
 
Ironis. Terlalu.
 
Tapi, bukankah kebenaran memang pahit bila diperdengarkan kepada orang-orang yang asing dari kebenaran?
 
Tidak selalu begitu. Ingatkah kita dakwah sunyi Rasulullah yang menyuapi pengemis Yahudi yang buta? Sepanjang “dakwahnya”, Nabi hanya diam menanggapi semua cacian yang ditujukan padanya. Walau jelas-jelas objek dakwahnya jahil dan kasar, tapi beliau hanya diam saja–dan terus menyuapinya. Tanpa dalil. Tanpa pembantahan atas seluruh keji yang dialamatkan pada pribadinya.
 
Dan… “aneh”. Sampai akhir hayatnya, Rasulullah bahkan tidak pernah menyampaikan apa pun pada sang pengemis buta. Tidak ada ceramah soal dirinya dan keagungan yang dibawanya. Tidak ada ayat yang disampaikannya tentang Islam dan segenap syariatnya. Beliau meninggalkan sang pengemis dalam kegelapan atas keterangan.
 
Sampai hari Abu Bakar menggantikan menyuapinya. Lalu sang pengemis segera tahu Abu Bakar bukan orang yang biasa. Abu Bakar menangis mendengar kesaksiannya. Selama ini, walau dicaci, Rasulullah selalu menyuapinya dengan cinta. Dikunyahnya dulu hingga halus, baru disorongkan. Pengemis itu sudah tua. Giginya tak lagi sempurna.
 
Masih menangis Abu Bakar saat ditanya sang pengemis siapa orang yang selama ini menyuapinya. Dan, saat Abu Bakar memberitahu namanya, hidayah turun seketika. Dari langit Allah yang mulia. Menyusup masuk dan syahadat langsung lafadznya. Dakwah tanpa kata itu tiba-tiba begitu berharga.    
 
Ini fikih dakwah yang penuh rasa. Datang dari uswah sepanjang masa. Apakah para penyeru dakwah hari ini tidak mau mencontohnya?
 
Lihat saja bagaimana Islam “dibawakan” hari ini. Seolah pendengarnya adalah ahli neraka dan penyerunya pasti masuk surga. Dakwah disampaikan dengan dalil-dalil syar’i, tapi entah kenapa terasa jauh dari hati. Padahal mereka berkata banyak sekali. Dari ayat, hadis, sampai kutipan ulama-ulama yang salih. Namun, betapa sedikit yang menyambutnya dengan senyuman. Yang ada malah cercaan. Dia dianggap sok alim. Sok tahu agama.
 
Lalu penyeru malah balik menghantam mereka dengan dalil yang lain. Yang lebih tegas dan pakai bawa azab, pakai bawa murka. Ancaman Allah bagi mereka yang mendustakanNya firman-firmannya. Yang diancam, malah balik lagi berkata. Debat sepanjang masa. Lebih lama dari Cinta Fitri, Tersanjung, atau semacamnya.
 
Sadarkah para penyeru itu yang orang bantah bukan ayatNya?
 
Sadarkah para penyeru itu yang orang tolak itu bukan hadisnya?
 
Dakwah bukanlah perkara menyampaikan apa adanya. Sebab menyampaikan kebenaran pun ada sunnahnya. Bahwa berdakwah tidak dilakukan pertama kali dengan koar-koar dan bentakan. Jika memang itu sunnahnya, Rasulullah pasti telah melakukan. Tapi, sirah di bagian mana yang mengatakan Rasulullah menyikapi orang-orang yang butuh dakwahnya dengan nada yang tinggi? Bahkan bermuka masam pun langsung ditegur Allah. Bahkan Musa pun diutus pada Fir’aun dengan pesan yang tegas tapi tetap terasa kasih sayangNya.
 
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. An-Nahl: 125)
 
Perintah dakwah bukanlah perintah petantang-petenteng bawa dalil dan membeberkan satu demi satu kesalahan orang lain. Jika memang ada yang salah, sampaikan pula dengan cara yang benar. Bukan dengan jalan kekerasan. Dakwah bukan perang. Dakwah bukan adu urat dan argumentasi. Dakwah, seperti halnya yang Rasulullah contohkan, adalah kasih sayang. Bahwa beberapa hal kadang dapat sampai tanpa harus banyak dalil dan vonis. Bahwa yang umat ini butuhkan adalah penyeru yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam dengan cinta. Bukan belaka masalah nilainya. Tapi caranya. Selalu tentang caranya.
 
Rasulullah, lewat fragmennya bersama pengemis buta, mengajarkan pada kita tentang ini. Dakwah adalah sikap, bukan belaka kata. Dakwah adalah cinta, bukan hanya data. Dakwah adalah memenuhi apa yang umat butuhkan, bukan hanya pengumuman tentang yang umat belum paham. Dakwah adalah mengenai siapa yang tengah diajak, bukan pukul rata. Bahwa berdakwah butuh mengerti. Bahwa penyeru harus jauh lebih mengerti cara sebelum terburu-buru menyampaikannya. Sebab resikonya bukan perkara yang sebelah mata.
 
Selalu ingat: Islam itu mudah. Jangan disusah-susahkan. Kalaupun kita yakin beberapa bagiannya susah diterima oleh masyarakat yang seperti sekarang, tugas kitalah merangkainya jadi seruan yang indah. Seindah Islam di hati para penyerunya–walau tidak harus disampaikan “seindah” ide di kepala penyerunya. Ada sudut pandang. Ada variasi perspektif. Ini soal memahami masalah kemanusiaan. Bukan hanya mempermasalahkan kemanusiaan.[]

Dari notes FB Asa Mulchias, 25 November 2010

Semoga Bermanfaat.

Salam Positif & Optimis!😀
DiniAnnisa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s