Tiga Macam Nikmat ( MA3: Tausyiah)

Berikut adalah tausyiah yang disampaikan oleh Avina Anin Nasia pada Jumat, 1e April 2013:

Tiga Macam Nikmat.

Ibnu Atha’illah berkata,”Jika Dia memberimu tiga hal, berarti Dia memberimu nikmat yang paling besar: menjaga batas-batas-Nya, setia memenuhi janji kepada-Nya, dan tenggelam dalam penyaksian kepada-Nya.”

Itulah tiga nikmat yang paling besar yg jika seorang hamba diberi taufik untuk melaksanakannya, berarti ia telah selamat pada hari kiamat dan hidup bahagia.
Allah berfirman:

“Dan orang-orang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al Ankabut:69)

Nikmat pertama adalah menjaga batas-batas Allah. Nabi SAW bersabda,”Allah tlah menetapkan berbagai kewajiban, jangan kalian abaikan. Dia melarang berbagai hal, jangan kalian langgar. Dia menentukan sejumlah batas, jangan kalian terobos. Dia juga mendiamkan sejumlah hal sbg rahmat, bukan karena lupa. Maka, jangan kalian cari hukum-hukumnya.”(HR.Al-Daruquthni)

Dalam hadits lain, Nabi SAW juga bersabda,”Sesungguhnya yang halal telah jelas dan yang haram juga telah jelas. Di antara keduanya, ada perkara-perkara syubhat, yang sebagian besar manusia tidak mengetahui hukumnya. Siapa yang menghindari perkara syubhat, berarti tlah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Sebaliknya, siapa yg terjerumus dalam perkara syubhat, pasti akan terjerumus dalam hal yang haram. Ibarat seorang penggembala yang menggembala sekitar tanah larangan. Ingatlah, tiap-tiap raja mempunyai larangan. Ingatlah, larangan Allah adalah apa-apa yang Dia haramkan. Ingatlah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Namun, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.(HR Bukhari-Muslim).

Setiap raja pasti memiliki wilayah terlarang yg tidak bisa dimasuki orang lain. Ia melarang siapa pun memasukinya. Barangsiapa memasukinya, berarti orang itu siap mendapat hukuman. Orang yg berhati-hati pasti tidak akan mendekati wilayah terlarang itu krn takur tanpa disadari memasukinya. Siapa yang mendekati daerah terlarang, akan berpeluang lebih besar jatuh ke dalamnya. Namun, orang yg berhari-hati pasti tidak akan mendekati serta tidak akan melibatkan diri pada sesuatu yang bisa mendekatkan pada maksiat. Karenanya, sedikitpun ia tidak menyentuh perkara syubhat. (Syarh Al Nawawi li Shahih Muslim)

Nikmat kedua adalah memenuhi janji kepada Allah. Kita tlah berjanji kepada-Nya untuk beribadah tanpa menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Di sisi lain, Allah berjanji mmberikan kepemimpinan, keteguhan agama, dan rasa aman kepada mereka yg beriman dan beramal saleh.
“Allah tlah mnjanjikan kpd orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan mnjadikan mereka berkuasa di bumi sbgmna Dia tlah mnjadikan orang-orang sbelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan agama yg tlah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatupun. Tetapi barang siapa tetap kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang fasik. (An Nur: 55)

Nikmat ketiga adalah tenggelam dalam penyaksian kepada-Nya. Ini merupakan tingkatan ihsan seperti yang dijelaskan oleh Nabi SAW dalam sabdanya,”Engkau menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya. Jika kau tidak melihat-Nya, Dia sungguh melihatmu.”(HR Bukhari-Muslim).

Artinya, kau berikut seluruh perasaanmu tertatik dr dunia dan sluruh keadaannya sehingga lenyap secara total dan yang tersisa bahwa kau berada di hadapan Allah seraya bermunajat melalui nacaan Al Quran, zikir, dan doa seakan-akan kau melihat-Nya.

Penyaksian hamba terhadap Tuhan tidak lebih dr mnyaksikan sifat-Nya, karunia-Nya serta manifestasi kemurahan dan rahmat-Nya. Setiap kali menerima nikmat, ia slalu mengaitkan dengan Sang Pemberi nikmat dan karunia. Dan setiap kali berpindah dari suatu keadaan (ahwal) kepada keadaan lain, ia melihat Allah yang bertinfak dan mengaturnya.

Jika perasaan ini terus diperlihara, hati hamba akan selalu mencintai Allah.

Sumber: buku Tajul ‘Arus (Ibnu Atha’illah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s